Desa Penglipuran Harmoni Tradisi dan Keindahan Alam Bali

Desa Penglipuran Harmoni Tradisi dan Keindahan Alam Bali

Desa Penglipuran, yang terletak di Kecamatan Bangli, Bali, adalah salah satu desa adat yang paling terkenal di Indonesia. Dikenal karena kebersihannya, arsitektur tradisional yang terjaga, dan kehidupan masyarakat yang masih memegang teguh nilai-nilai budaya, desa ini telah menjadi destinasi wisata yang menarik bagi wisatawan lokal maupun mancanegara.

Sejarah dan Asal Usul Desa Penglipuran

Desa Penglipuran memiliki sejarah panjang yang diyakini telah ada sejak zaman Kerajaan Bangli sekitar 700 tahun yang lalu. Nama “Penglipuran” berasal dari kata “pengeling” dan “pura,” yang berarti tempat suci untuk mengenang para leluhur. Penduduk desa ini berasal dari Desa Bayung Gede, Kintamani, yang kemudian menetap di wilayah ini dan membentuk komunitas baru dengan tetap mempertahankan tata ruang dan adat istiadat dari desa asal mereka.

Keunikan Arsitektur dan Tata Ruang

Salah satu daya tarik utama Desa Penglipuran adalah tata ruang dan arsitektur rumah tradisional Bali yang masih terjaga. Setiap rumah di desa ini dibangun dengan desain yang seragam dan rapi, mengikuti konsep Tri Mandala, yang membagi ruang menjadi tiga bagian: Utama Mandala (area suci), Madya Mandala (area tengah), dan Nista Mandala (area luar). Pintu gerbang khas Bali, atau “angkul-angkul,” menghiasi setiap rumah, menambah keindahan dan kesan tradisional desa ini.

Kehidupan Sosial dan Budaya Masyarakat

Desa Penglipuran
baliwatersport.net

Masyarakat Desa Penglipuran hidup dalam harmoni dengan alam dan sesama. Mereka memegang teguh nilai-nilai adat dan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satu aturan adat yang unik adalah larangan poligami; pelanggaran terhadap aturan ini dapat menyebabkan pelaku diasingkan ke area khusus di luar desa utama.

Selain itu, masyarakat desa juga aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan, seperti hutan bambu seluas 37,7 hektar yang dianggap suci dan dikelola secara adat. Bambu dari hutan ini digunakan dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari bahan bangunan hingga peralatan rumah tangga.

Pengalaman Wisata di Desa Penglipuran

Desa Penglipuran menawarkan pengalaman wisata yang autentik dan edukatif. Pengunjung dapat berjalan-jalan menyusuri jalan desa yang bersih dan rapi, mengunjungi rumah-rumah tradisional, serta belajar tentang budaya dan adat istiadat setempat. Beberapa aktivitas yang bisa dilakukan antara lain:

  • Mengunjungi Rumah Tradisional: Melihat langsung arsitektur dan tata ruang rumah tradisional Bali.
  • Belajar Kerajinan Tangan: Mengikuti workshop pembuatan kerajinan dari bambu atau bahan alami lainnya.
  • Mencicipi Kuliner Lokal: Mencoba makanan khas Bali yang disajikan oleh warga setempat.
  • Menginap di Homestay: Merasakan kehidupan sehari-hari masyarakat desa dengan menginap di rumah warga.

Informasi Praktis

Lokasi:

Desa Penglipuran terletak sekitar 60 km dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, dapat ditempuh dalam waktu sekitar 1,5 jam dengan kendaraan.
detikcom

Harga Tiket Masuk:

  • Wisatawan Lokal: Dewasa Rp25.000, Anak-anak Rp15.000
  • Wisatawan Mancanegara: Dewasa Rp50.000, Anak-anak Rp30.000

Jam Operasional:

Desa dibuka untuk wisatawan setiap hari dari pukul 08.00 hingga 18.00 WITA.

Desa Penglipuran adalah contoh nyata bagaimana masyarakat dapat hidup selaras dengan alam dan mempertahankan tradisi di tengah arus modernisasi. Dengan keindahan alam, arsitektur tradisional, dan kehidupan sosial yang harmonis, desa ini menawarkan pengalaman wisata yang berbeda dan mendalam bagi siapa saja yang berkunjung.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Leave a Comment